Tuesday, January 28, 2020

Essay Post Strukturalism (Teori Sosial)

Pengaruh Media Komunikasi Masa terhadap Budaya Konsumerisme di Indonesia

       Indonesia merupakan negara yang mempunyai berbagai macam budaya. Oleh karena itu negara Indonesia disebut juga dengan negara multi cultural. Menurut Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Bapak Ki Hajar Dewantara, budaya adalah hasil dari perjuangan manusia baik terhadap alam ataupun terhadap suatu zaman yang membuktikan suatu kejayaan dan kemakmuran bagi kehidupan masyarakat ketika menghadapi keadaan sulit dan hambatan-hambatan lainnya dalam mencapai kemakmuran, keselamatan dan kebahagiaan pada kehidupan. Selain itu menurut seorang ahli Arkeologi yang bernama R. Soekmono, budaya adalah usaha ataupun hasil kerja dari manusia berupa benda ataupun hasil sebuah pemikiran manusia didalam hidupnya.. Jadi dapat disimpulkan, bahwa budaya adalah hasil konstruksi sosial berupa hasil pemikiran yang terwujud dalam karya-karya manusia berupa benda-benda, tingkah laku dan kebiasaan manusia dalam mengarungi kehidupan. Bangsa Indonesia mempunyai budaya-budaya yang berbeda disetiap daerahnya, mulai dari budaya yang terdapat di daerah Sabang sampai pada daerah Merauke. Meskipun berbeda, tetapi pada dasarnya budaya bangsa Indonesia mempunyai cirri khas yang sama yaitu cirri khas yang berakar pada nilai luhur yang sejak lama telah berkembang di Indonesia. Kesamaan cirri khas tersebut terjadi karena budaya-budaya bangsa Indonesia merupakan hasil konstruksi sosial bangsa Indonesia itu sendiri. Sebagai bangsa Indonesia, sebenarnya kita patut berbangga dengan kekayaan budaya bangsa yang tidak terdapat pada kebudayaan negara lain dan menjadi daya tarik tersendiri bagi negara lain terhadap Indonesia. 
       Kekayaan budaya bangsa Indonesia tidak sepenuhnya dapat membentengi bangsa Indonesia dari pengaruh globalisasi. Kencangnya arus globalisasi membuat budaya bangsa Indonesia secara berangsur-angsur terkikis habis dan digantikan oleh budaya luar. Menurut Anthony Gidden, globalisasi adalah intensifikasi hubungan masyarakat diseluruh dunia yang mengaitkan seluruh daerah sehingga kejadian lokal dapat terbentuk dari peristiwa yang terjadi bermil-mil jaraknya sekalipun dan sebaliknya. Sedangkan menurut Emanuel Richter, globalisasi adalah jaringan kerja global dengan bersamaan dalam menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpisah atau berpencar-pencar dan tertutup yang nantinya akan menumbuhkan rasa saling ketergantungan satu sama lainnya dan mampu mewujudkan persatuan dunia. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa globalisasi merupakan suatu proses peleburan berbedaan-berbedaan kebiasaan diseluruh dunia agar terciptanya persatuan dan rasa saling ketergantungan pada individu diseluruh dunia. Globalisasi digadang-gadangkan oleh masyarakat dunia terutama bangsa barat karena menurut mereka globalisasi mempunyai pengaruh positif seperti adanya keterbukaan informasi, tersedianya komunikasi yang mudah dan cepat, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan akibat canggihnya teknologi informasi, meningkatnya perekonomian negara maju, meningkatnya taraf hidup masyarakat yang mampu memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahunan dan teknologi informasi, serta meningkatnya persaingan ekonomi yang sehat dari suatu negara dengan negara lainnya. Mereka yang membangga-banggakan globalisasi tidak sadar akan banyaknya pengaruh buruk dari globalisasi tersebut. Apalagi di Indonesia, pengaruh buruk globalisasi sangat berimbas pada kehidupan bangsa. Adapun bentuk –bentuk pengaruh buruknya globalisasi adalah seperti tidak terkendalinya informasi, meningkatnya sifat individual yang sangat bertentangan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kebersamaan dan persatuan, meningkatnya gaya hidup liberalis yang sangat mengutamakan kebebasan individu, maningkatnya kesenjangan sosial, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri, serta yang lebih parah lagi adalah meningkatnya budaya konsumerisme dikalangan masyarakat indonesia. 
      Budaya konsumerisme merupakan kebiasaan manusia untuk mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan tanpa mempertimbangkan aspek kebutuhan. Masyarakat Indonesia terjangkit budaya konsumerisme ini salah satunya adalah karena pengaruh globalisasi yang menyediakan informasi secara berlebihan mengenai tren kehidupan masa kini. Orang yang mempunyai budaya konsumerisme cenderung menjadikan tren kehidupan masa kini sebagai orietasinya dalam mengkonsumsi sesuatu, bukan karena iya membutuhkannya. Hal ini senada dengan pendapat Mower dan Minor didalam bukunya yang berjudul Perilaku Konsumen yang terbit di tahun 2002 yang menyebutkan bahwa konsumerisme adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional melainkan membeli barang atau jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan atau pelampiasan emosi belaka. Biasanya yang terjangkit budaya konsumerisme ini adalah para remaja dan perempuan-perempuan di daerah perkotaan. Sebab remaja dan perempuan pada dasarnya mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengikuti perkembangan zaman dari segi gaya hidup seperti gaya berpakaian, bertingkah laku dan kebiasaan lainnya. Remaja dan perempuan perkotaan lebih cenderung mempunyai budaya konsumerisme dibanding dengan remaja dan perempuan di pedesaan. Karena di daerah perkotaan, akses informasi mengenai trend hidup masa kini lebih mudah diakses dan cepat berkembang, ditambah lagi di perkotaan banyak terdapat pusat-pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai kebutuhan dan keinginan untuk mengikuti tren kehidupan masa kini. Sementara di pedesaan, para remaja dan perempuan lebih cenderung mengkonsumsi sesuatu berdasarkan kebutuhan dan teknologi informasi untuk mengakses gaya hidup masa kini masih sulit untuk diperoleh. Selain karena tuntutan tren kehidupan masa kini, ada juga beberapa indikator yang menyebabkan seseorang berbudaya konsumtif. Menurut Monica yang terdapat didalam bukunya yang berjudul Konsumtif : Antara Gengsi dan Kebutuhan yang diterbitkan ditahun 2006 silam menyebutkan bahwa ada beberapa indikator seseorang dapat berbudaya konsumtif, diantaranya adalah indikator membeli suatu produk karena berhadiah, indikator membeli suatu produk karena kemasannya terlihat bagus dan menarik, indikator membeli suatu produk untuk menjaga penampilan diri dan gengsi dimasyarakat, indikator membeli produk karena adanya potongan harga seperti adanya diskon besar-besaran, indikator membeli produk karena mempunyai perspektif bahwa produk yang harganya mahal lebih berkualitas dan mendapat pengakuan social dimasyarakat dari pada produk yang berharga murah, dan indikator ingin mencoba produk dengan dua merk yang berbeda untuk mendapatkan pengakuan kekayaan dimasyarakat. 
       Pada dasarnya budaya konsumtif mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan. Contohnya saja dengan meningkatnya budaya konsumtif maka akan meningkatnya keterbukaan lowongan pekerjaan, sebab permintaan dari konsumen akan suatu produk dalam jumlah besar akan membutuhkan tenaga kerja yang banyak, meningkatkan keinginan masyarakat untuk mempunyai penghasilan yang lebih agar dapat mengkonsumsi barang yang diinginkannya, dan meningkatnya keterbukaan pasar bagi produsen dengan bertambahnya permintaan dari masyarakat selaku konsumen. Namun dibalik pengaruh positifnya, terdapat pengaruh negatif yang besar yang ditimbulkan oleh budaya konsumerisme apalagi bagi bangsa Indonesia. Dengan meningkatnya budaya konsumerisme, maka akan berpengaruh pada meningkatnya pengeluaran perkapita masyarakat Indonesia, meningkatnya angka kriminalitas karena untuk memenuhi budaya konsumtif memerlukan biaya yang besar sehingga akan terjadi perampokan dan tindakan kriminalitas lainnya, kurangnya kesempatan masyarakat untuk menabung sebagian uangnya untuk kebutuhan dimasa depan, dan kurangnya kerasionalan masyarakat dalam melakukan kegiatan konsumsi karena hanya didorong oleh factor perkembangan zaman. 
      Bagi para pelaku konsumerisme, terpenuhinya tren kehidupan masa kini baik dari segi berpakaian, pergaulan, harta dan barang-barang mewah adalah sesuatu yang sangat penting. Sebab hal itu merupakan faktor penyebab meningkatnya eksistensi atau pamor mereka di mata masyarakat lainnya. Eksistensi dan pamor yang tinggi akan berdampak pada meningkatkan status sosial mereka dikalangan masyarakat. Karena bagi mereka yang menjadi patokan utama dalam hidup adalah eksistensi, ketenaran, prestise dan pengakuan sosial di masyarakat. 
     Salah seorang Sosiolog ternama dunia yaitu Jean Baurdrillard pernah mengangkat masalah konsumerisme dalam pemikiran postmodernnya. Jean Baurdrillar merupakan sosiolog yang berasal dari negara Prancis. Ia termasuk salah satu intelektual yang telah menghasilkan banyak karya dibidang sosiologi, filsafat, dan politik. Dunia ilmu pengetahuan memandangnya sebagai ilmuan yang mempunyai pemikiran dan visi-visi yang baru terutama dalam komunikasi masa. Dalam pemikirannya membongkar rezim kepastian, ia terkenal dengan konsep Simulasi dan Hiperealistasnya untuk membahas tentang meningkatnya budaya konsumerisme karena pengaruh komunkasi masa 
       Menurut Jean Baurdrillard, simulasi merupakan proses penciptaan realitas melalui model-model yang tidak mempunyai asal-usul atau referensi realitasnya sehingga memberikan manusia kemampuan untuk membuat sesuatu yang bersifat irrasional, ilusi, fantasi, imajinatif dan khayalan menjadi sesuatu yang tampak nyata. Didalam bukunya yang berjudul Simulations, Jean Bourdrillard menyebutkan bahwa kita saat ini hidup di zaman simulasi. Simulasi adalah realitas kedua (second reality) yang bersumber dari diri sendiri (simulacrum of simulacrum). Simulasi tidak mempunyai hubungan langsung dengan realitas yang sesungguhnya, akan tetapi hanyalah realitas buatan (artificial reality) belaka. Simulasi membuat manusia sulit untuk membedakan antara yang abstrak dengan yang nyata, antara yang imajinatif dengan yang riil dan antara yang asli dengan yang palsu. Simulasi sering kali lahir karena untuk pencitraan, sebab pencitraan menutupi bahkan menyelewengkan realitas, pencitraan menutupi ketidakadaan realitas dan melahirkan ketidakterkaitan pada berbagai realitas apa pun. Masyarakat seringkali tersimulasi dan terpedaya oleh citra dan fenomena yang tanpa mereka sadari telah merubah pengalaman realitas mereka. 
      Jean Baurdrillar berpendapat bahwa dunia telah kehilangan keasliannya dan yang ada saat ini hanyalah simulasi. Simulasi merupakan dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode yang tidak mempunyai referensi yang jelas. Hal ini senada dengan pernyataan Jean Baurdrillar didalam bukunya yang terbit ditahun 1994 yang berbunyi Simulation is no longer that of territory, a referential being, or a substance. It is the generation by models of a real without origin or a reality: a Hyperreal. Manusia saat ini hidup di zaman simulasi , hal ini ditandai dengan adanya berbagai macam iklan yang sedang merebak dikehidupan. Iklan merupakan produk dari simulasi itu sendiri, sebab didalam iklan terdapat realitas buatan yang bersifat imajinatif dan irrasional yang akan membuat manusia percaya pada realitas buatan tersebut. Dengan adanya iklan yang mudah ditemukan dimedia masa seperti di televisi, radio dan koran menyebabkan meningkatnya perilaku konsumtif manusia. Iklan sebagai medium menjadi diragukan. Iklan yang ada saat ini bukanlah medium untuk menyampaikan pesan terhadap yang dikonsumsi. Iklan seolah-olah berdiri sendiri dan terlepas dari tanda-penanda sehingga iklan tersebut dapat dikonsumsi. Selain itu, didalam iklan juga terdapat manipulasi tanda yang akan meningkatkan angka konsumsi masyarakat. Dengan adanya gambar, fakta dan informasi yang menarik didalam iklan akan mengakibatkan masyarakat tertipu bahkan salah dalam memaknai kegunaan produk yang diiklankan. Selain simulasi, salah satu konsep postmodern Jean Baurdrillard yang erat kaitannya dengan budaya konsumerisme adalah hiperalitas. Hiperealitas pada konsepnya adalah membuat sesuatu yang melampaui kenyataan. Menurut Jean Baurdrillard hiperealitas menghapuskan antara yang nyata dengan yang imajiner. Hiperealitas membuat sesuatu mampu mengalahkan realitas sesungguhnya. Aspek-aspek mengenai kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu dan realitas seolah-olah bercampur baur menjadi satu dan membentuk suatu hiperealitas baru. Hiperealitas sangat tampak pada realitas yang terdapat di sosial media seperti realitas di facebook, twitter, what up, instagram dan media sosial lainnya dan juga realitas di televisi yang nampak lebih nyata daripada kenyataan yang sebenarnya. Dimana model, prestise dan kode hiperrealitas berkembang sebagai pengontrol pikiran dan tindak-tanduk atau tingkah laku manusia. Hal itulah yang mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif, karena melihat dan meniru hiperealitas di media komunikasi masa. Mereka yang memiliki budaya konsumtif mempunyai perspektif yang lebih terhadap apa-apa yang ditayangkan di media masa. Oleh karena itulah, orientasi mereka untuk berperilaku konsumtif adalah gaya hidup dan tren hidup masa kini yang ditampilkan di media komunikasi masa tersebut. Sebagai contohnya, dimedia televisi ditemukan iklan sebuah produk pewangi, Didalam iklan tersebut terdapat seorang perempuan yang menggunakan produk pewangi yang diklankan, lalu setelah memakai pewangi tersebut maka wangi yang dihasilkan dari pemakaian produk pewangi oleh perempuan tersebut merebak keseluruh kampung dan wanginya dapat dinikmati oleh semua orang di suatu kampung tersebut. Padahal secara realitas, tidak mungkin hal tersebut dapat terjadi, tetapi karena iklan tersebut ditampilkan secara berulang-ulang maka akan membentuk hiperealitas dimasyarakat dan akan menimbulkan keinginan masyarakat untuk mengkonsumsinya. Sistem konsumsi menurut Jean Baurdrillar dapat berfungsi sebagai ideologi. Karena sistem konsumsi dapat merekatkan atau memberi kohesi pada masyarakat dan menjamin integritas yang ada pada masyarakat serta menjamin hierarki dalam masyarakat primitif. Selain fungsi ideologi, sistem konsumsi juga dapat menjamin tatanan tanda. Karena dengan adanya konsumsi maka tatanan tanda yang terdapat pada komoditas yang dikonsumsi akan terjamin keberlangsungannya. Menurut Jean Baurdrillar masyarakat konsumeris pada dasarnya bukanlah mengkonsumsi komoditas melainkan mengkonsumsi tanda dari suatu komoditas yang dikonsumsinya. Tanda tersebut berupa pesan dan nama baik dari komoditas yang disampaikan melalui iklan dengan menggunakan kalimat-kalimat yang persuasif agar masyarakat membeli komoditas tersebut. Jean Baurdrillard juga memberikan kesadaran kepada masyarakat modern, bahwa dalam melakukan konsumsi kita seharusnya bersikap bijaksana. Bijaksana dalam artian dapat merubah motivasi kita dalam melakukan konsumsi yang tadinya termotivasi karena meningkatkan kelas sosial dan pengakuan dari orang lain menjadi motivasi karena untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Selain itu kita harus kritis terhadap kegiatan konsumtif selama ini, lebih selektif dalam membelanjakan uang, memiliki prinsip untuk hidup tidak boros dan menyusun skala prioritas kebutuhan. 
      Sebagai bangsa yang berbudaya seharusnya kita lebih bisa membentengi diri dari pengaruh budaya luar yang ditularkan melalui media komunikasi masa. Salah satunya mampu mengurangi budaya konsumerisme. Bangsa Indonesia seharusnya mampu mempertimbangkan perilaku, gaya hidup dan pola konsumsinya dalam mengarungi kehidupan. Karena dengan terkendalinya perilaku, gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat Indonesia akan berpengaruh pada taraf kehidupan sosial di Indonesia dan akan mengurangi kesenjangan sosial yang akhir-akhir ini menjadi faktor pembeda antara kaum sosialita dengan rakyat biasa. Sebab negara yang bisa maju adalah negara yang mempunyai taraf kehidupan social yang bagus dan kondusif, tidak terdapatnya kesenjangan sosial, serta mempunyai pendapatan perkapita yang meningkat setiap tahunnya. 

Daftar Pustaka 
A Alfitri. Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan. Jurnal Universitas Sriwijaya (http://unsri.ac.id) (Diakses Tanggal 16 Desember 2017) 
Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis Post Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius. 
Mowen, J.C., Minor, M. 2002. Perilaku Konsumen. Jakarta. Erlangga. 
Mutia Hastiti Pawanti. Masyarakat Konsumeris Menurut Pemikiran Jean Baurdrillard. Jurnal Universitas Indonesia ( http://lib.ui.ac.id) (Diakses Tanggal 20 Desember 2017) 
Utoyo, Bambang. 2011. Perkembangan Pemikiran Jean Baurdrillard: dari Realitas ke Simulacrum. Jakarta : Perpustakaan Universitas Indonesia.

No comments:

Post a Comment