PENYEHATAN PATOLOGI
ORGANISASI
Organisasi
sebagai suatu sistem yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan-lingkungannya
mengakibatkan organisasi mudah diserang penyakit. Penyakit yang menyerang
organisasi dinamakan patologi organisasi. Jadi patologi organisasi adalah
penyakit penyakit yang menyerang atau terdapat di dalam organisasi yang dapat
menghambat bahkan mematikan organisasi. Setiap organisasi pasti akan mengalami
patologi organisasi, terlepas dari besar atau kecilnya organisasi dan sudah
lama atau barunya organisasi.
Patologi
yang menyerang organisasi pada awalnya tidak begitu mengganggu jalannya
kegiatan organisasi. Namun lama kelamaan apabila terus dibiarkan maka patologi
organisasi akan berkembang dan menyebar keseluruh bagian organisasi sehingga
akan menjadi penghambat organisasi, bahkan dapat melumpuhkan kegiatan
organisasi ataupun kematian pada organisasi.
Agar
organisasi tidak terhambat, lumpuh bahkan mati karena patologi yang menyerang
organisasi, maka diperlukan upaya penyehatan terhadap patologi yang menyerang
organisasi. Penyehatan organisasi menurut Dewi, (2014:4) adalah penyelesaian berbagai
permasalahan terkait kinerja organisasi.
Jadi pada dasarnya, penyehatan patologi organisasi maksudnya adalah melakukan
penyehatan, pemberian solusi, perbaikan masalah dan penyelesaian masalah atau
penyakit yang menyerang tubuh organisasi guna tercapainya kinerja organisasi yang baik.
Penyehataan
terhadap patologi organisasi dapat dilakukan dengan beberapa upaya, adapun
upaya penyehatan patologi organisasi tersebut adalah
a. Restrukturisasi
Organisasi
Restrukturisasi
organisasi adalah upaya yang dilakukan suatu organisasi untuk mengubah dan
merancang kembali desain struktur organisasi guna memperjelas pembagian tugas,
wewenang, dan tanggung jawab anggota organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.
Hal ini sebagaimana dimaksud oleh Fikri, dkk (2015:3) bahwa restrukturisasi
organisasi adalah perubahan struktur organisasi yang memiliki tujuan untuk
memperbaiki kekurangan dari struktur lama dengan cara menyusun ulang aset
perusahaan, pendanaan perusahaan atau apa saja yang merupakan kekayaan dan
dalam kendali korporat.
Dalam
penerapannya, restrukturisasi yang terjadi pada organisasi terdiri dari
beberapa jenis, adapun jenis restrukturisasi organisasi menurut Bramantyo,
(2004:24) adalah
1.
Restrukturisasi
portofolio atau aset
Restrukturisasi
portofolio atau aset adalah penyusunan portofolio perusahaan suaya kinerja
perusahaan menjadi lebih baik.
2.
Restrukturisasi
keuangan atau modal
Restrukturisasi
keuangan atau modal adalah penyusunan ulang komposisi modal perusahaan supaya
kinerja perusahaan menjadi lebih baik.
3.
Restrukturisasi
manajemen dan organisasi
Restrukturisasi
manajemen dan organisasi adalah penyusunan ulang komposisi manajemen, struktur
organisasi, pembagian kerja, sistem operasional, dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan masalah managerial dan organisasi.
Pada
upaya penyehatan patologi organisasi, yang lebih ditekankan menurut penulis adalah
restrukturisasi pada manajemen dan organisasi. Hal ini bukan berarti
mengesampingkan restrukturisasi pada aspek portofolio dan keuangan. Tetapi pada
dasarnya yang banyak diserang patologi organisasi
adalah
pada aspek manajemen dan organisasinya. Sehingga dengan dilakukannya
restrukturisasi organisasi dan manajemen maka patologi organisasi yang menyerang
struktur organisasi seperti tujuan organisasi telah ditetapkan namun
pencapaiannya tidak dirumuskan dengan baik dan jelas, tidak seimbangnya
tanggung jawab dengan wewenang, dan pembagian tugas dan wewenang yang tidak
jelas dapat di sehatkan atau diperbaiki.
b.
Pengembangan
Organisasi
Pengembangan organisasi menurut Burke (1998) dalam
Winardi, (2017:198) adalah sebuah proses perubahan yang direncanakan didalam
kultur suatu organisasi, melalui pemanfaatan teknologi ilmu behavioral, riset
dan teknologi. Dengan adanya pengembangan organisasi maka suatu organisasi akan
mengalami peningkatan efektifitas, permasalahan-permasalahan keorganisasian
akan terpecahkan dan terselesaikan, adanya strategi adaptasi untuk masa yang
akan datang.
Adapun aktor pengembangan
organisasi adalah deisebut dengan agen perubahan atau konsultan OD. Menurut
Syamsir, (2016:149) agen perubahan bekerja mendiaknosa masalah masalah yang
spesifik, memberikan umpan balik kepada para anggota organisasi serta membantu
mereka dalam mengembangkan strategi dan intervensi guna perbaikan secara
keseluruhan.
Dengan adanya
pengembangan organisasi, maka patologi organisasi yang bersumber dari perilaku
organisasi akan tersehatkan, sehingga organisasi akan berjalan dengan lancer
dan dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.
c.
Pemberian
Motivasi
Pemberian
motivasi adalah kegiatan memberikan motivasi kepada anggota organisasi oleh
pihak manajerial. Motivasi menurut Robbins dalam Badeni (2014:77) adalah
kemauan untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi,
yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan
individual. Sedangkan menurut Citra,
dkk (2016:3) motivasi adalah sebuah dorongan baik itu dari
dalam maupun dari luar yang memepengaruhi seseorang untuk berbuat sesuatu.
Jadi
dapat dipahami bahwa dengan adanya pemberian motivasi oleh pihak manajerial
kepada anggota organisasi maka anggota organisasi akan termotivasi untuk untuk
bekerja lebih baik sehingga patologi organisasi seperti buruknya kinerja
anggota organisasi akan tersehatkan, dengan begitu apabila patologi dalam
organisasi tersehatkan maka tujuan organisasi akan tercapai.
d.
Peningkatan
Pengawasan
Pengawasan
menurut Syamsir, (2016:97) adalah salah satu fungsi manajemen untuk menjamin
keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan program sesuia dengan tujuan yang
diharapkan atau tidak. Karena banyaknya
patologi yang menyerang organisasi yang berkaitan dengan pengawasan seperti
anggota organisasi yang tidak disiplin dan tidak mematuhi peraturan, maka
penyehatannya adalah dengan cara meningkatkan pengawasan, karena dengan adanya
pengawasan yang ekstra maka anggota organisasi akan mematuhi aturan dan akan
disiplin sehingga tujuan organisasi dapat dicapai seefektif mungkin. Adapun
upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan pengawasan menurut Andri, (2015:3) adalah dengan
melakukan empat macam pengawasan, yaitu :
a.
Pengawasan dari Dalam
Pengawasan
dari dalam adalah pengawasan yang dilakukan oleh atasan atau unit pengawasan di
bentuk oleh organisasi itu sendiri. Pengawasan dari dalam dapat langsung
dilakukan oleh atasan terhadap kinerja anggota yang ada dalam organisasi.
b.
Pengawasan dari Luar
Pengawasan
dari luar adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang atau unit
pengawasan dari luar organisasi. Pengawasan ini dilakukan oleh pihak eksternal
organisasi yang memang berhak melakukan pengawasan. Adapun contohnya adalah BPK
yang melakukan pengawasan terhadap seluruh departemen yangaada di lingkungan
negara Indonesia.
c.
Pengawasan Formal
Pengawasan
formal adalah pengawasan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang diberi
wewenang untuk melakukan pengawasan secara internal dan eksternal. Dalam
melakukan pengawasan pengawas formal akan melaporkan hasil pengawasannya serta
memberikan saran-saran perbaikan dan penyempurnaannya.
d. Pengawasan
Informal
Pengawasan
informal adalah pengawasan yang
dilakukan oleh masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dan nantinya
apabila masyarakat melihat adanya kesalahan yang dilakukan anggota organisasi,
maka masyarakat dapat melaporkannya pada pihak manajerial.
Dengan dilakukannya
empat macam pengawasan tersebut, maka patologi organisasi seperti penurunan kinerja organisasi dapat disehatkan,
sehingga setelah dilakukannya empat pengawasan tersebut maka organisasi
kedepannya akan mengalami peningkatan kinerja sehingga tujuan organisasi dapat
dicapai secara efektif dan efisien.
e.
Pelatihan
Sumber Daya Manusia Organisasi
Pelatihan
sumber daya organisasi adalah upaya penyehatan organisasi dari patologi
organisasi seperti kurang kompeten dan kurangnya pengetahuan dan keterampilan
anggota organisasi. Pelatihan menurut Bangun dalam Trawardani, dkk (2015:2) adalah proses untuk
mempertahankan atau memperbaiki
keterampilan karyawan untuk menghasilkann pekerjaan yang efektif.
Adapun
tujuan di adakannya pelatihan sumber daya manusia organisasi menurut
Nitisemitro (2000) dalam Dhita,
dkk (2012:5)
adalah menambah pengetahuan, keterampilan dan merubah sikap anggota organisasi
ke arah yang lebih baik agar dapat menjamin penyelenggaraan tugas-tugas
pemerintahan dan pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna.
Jadi
dapat dipahami bahwa pelatihan berguna untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan
pekerjaan dan membantu meningkatkan efektifitas serta produktifitas dalam
perusahaan. Dengan
dilakukannya pelatihan pada anggota organisasi maka intelektual, keterampilan
dan kompetensi anggota organisasi akan meningkat. Sehingga patologi organisasi
seperti kurang cakap dan kompetennya anggota organisasi dalam melaksanakan
tugas akan tersehatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Andri, Eko Saputra. 2015. Peranan Pengawasan dalam Meningkatkan
Efektifitas Kerja Karyawan pada PT. Kereta Api. Jurnal Media Wahana
Elektronika Vol. 12 No. 1 : Universitas PGRI Palembang
(http://download.portal.garuda.article).
Badeni. 2014. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.
Bandung : Alfabeta.
Bramantyo.
2004. Restruksirisasi Perusahaan Berbasis
Nilai. Jakarta : PPM.
Citra, Dwi Jatiningrum dkk. 2016. Pengaruh Budaya Organisasi, Motivasi dan
Kemampuan terhadap Kinerja (Studi pada Karyawan dan Agen PT. Asuransi Jiwasraya
Branch Office Malang). Jurnal Administrasi Publik. Vol.39. No.1:
Universitas Brawijaya (http://download.portal.garuda.article).
Dewi,
Sartika. 2014. Analisis Kebijakan
Penyehatan Perusahaan Daerah Pergudangan Dan Aneka Usaha (Pd Pau) Kota
Samarinda. Jurnal Widyariset, Vol 17. No 1 : Pusat Kajian Pendidikan dan
Pelatihan Aparatur III Samarinda.
Dhita, Ayu Meithaningrum,
dkk. 2012. Efektivitas Pendidikan dan
Pelatihan dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai ( Studi pada Badan Kepegawaian
Daerah Kabupaten Malang). Jurnal Administrasi Publik. Vol.1 No. 3 :
Universitas Brawijaya (http://download.portal.garuda.article).
Fikri,
Firmansyah Farid,
dkk. 2015. Gambaran Restrukturusasi
Organisasi : Studi pada PT. Telekomunikasi, Tbk. Witel Malang tentan Bentuk,
Jenis, Faktor Pendorong, Faktor Penghambat restrukturisasi dan desain struktur
organisasi. Jurnal Administrasi Bisnis Vol 1 No. 2: Universitas Brawijaya.
(http://download.portal.garuda.article).
Syamsir,
Torang. 2016. Organisasi
dan Manajemen (Perilaku, Struktur, Budaya & Perubahan Organisasi). Bandung
: Alfabeta.
Trawardani, Isa Bharoka, dkk. 2015. Pengaruh Pelatihan Terhadap Kemampuan Kerja yang Berdampak pada Kinerja Karyawan.
Jurnal Administrasi Bisnis Vol. 29 No.1 : Universitas Brawijaya
(hhtp://download.portal.garuda.article).
Winardi.
2017. Teori Organisasi dan
Pengorganisasian. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
No comments:
Post a Comment