Tuesday, March 19, 2019

Review Buku : Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster)

Review Buku : Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar

                                 (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster)

Buku lingkungan hidup dan kapitalisme sebuah pengantar merupakan buku karya Fred Magdoff dan John Bellamy Foster. Fred Magdoff merupakan professor ilmu tanah, tumbuhan dan pangan di Universitas Vermont serta direktur Monthly Review Foundation dan John Bellamy Foster adalah professor sosiologi di Universitas Oregon. Oleh karena latar belakang penulis buku ini mengarah pada ranah lingkungan dan sosial, maka buku lingkungan hidup dan kapitalisme sebuah pengantar ini berisi tentang buruknya pengaruh kapitalisme terhadap lingkungan.
Paham kapitalis yang berorientasi pada laba untuk meningkatkan modal (capital) menyebabkan merebaknya bisnis berskala besar dan manufaktur. Kegiatan bisnis berskala besar dan manufaktur menyebabkan timbulnya kerusakan lingkungan. Semakin banyak kegiatan bisnis berskala besar dan manufaktur maka akan semakin tinggi tingkat perolehan laba untuk pemupukan modal (capital) dan sebaliknya akan semakin merusak lingkungan. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi pada kapitalisme akan berbanding terbalik dengan keberlangsungan lingkungan.
Semakin tingginya tingkat ambisi untuk perolehan laba pada paham kapitalis akan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Adapun pengaruh buruk pertumbuhan ekonomi kapitalis terhadap keberlangsungan lingkungan pada buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar adalah terjadinya perubahan iklim, pemanasan air laut, penipisan ozon di stratosfer, batas aliran biogeokimia (siklus nitrogen dan fosfor), penggunaan air bersih global, perubahan pemanfaatan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, pelepasan aerosol ke atmosfer dan polusi kimia (Magdoff dan Foster, 2018 : 7).
Pada buku lingkungan hidup dan kapitalisme, yang menyumbang kerusakan lingkungan di planet bumi ini adalah kalangan kaya, sedangkan kalangan miskin jauh lebih baik dalam menjaga keberlangsungan lingkungan. Meski demikian, yang lebih mengalami kerugian adalah kaum miskin. Kaum miskin tidak mendapat penghasilan yang besar, tidak merusak lingkungan namun merasakan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kaum kaya. Oleh karena itu, Amerika Serikat merupakan penyumbang kerusakan lingkungan yang terbesar di dunia. Amerika Serikat merupakan Negara yang kental akan paham kapitalis sehingga mempunyai banyak bisnis berskala besar dan manufaktur. Bisnis berskala besar dan manufaktur tersebutlah yang banyak menyumbangkan kesusakan lingkungan, seperti kilang minyak British Petroleum American Oil Company yang merupakan kilang minyak milik Inggris yang telah bergabung dnegan kilang minyak Amerika Serikat. Kilang minyak ini banyak merusak lingkungan seperti terjadinya tumpahan dari pipa minyak di Alaska pada tahun 2006, ledakan kilang minyak di Texas yang mengakibatkan 15 orang meninggal dan mencederai 170 lainnya pada tahun 2005, pelepasan polutan dalam jumlah besar (Magdoff dan Foster, 2018: 82). Kemudian pada tahun 2010, kilang minyak BP Amoco ini mengalami tumpahan minyak. Tumpahan minyak tersebut terjadi di teluk Meksiko dan mengakibatkan 11 orang meninggal dan teluk beserta rawa rusak parah. Selain itu, tambang batu bara Amerika serikat juga merupakan bisnis berskala besar yang merusak lingkungan, contohnya saja pada terjadinya pemotongan pucuk gunung Kentucky demi menjangku batu bara.
Meski di Amerika serikat tata kelola pemerintahannya terlihat bagus, namun tak mampu menyelesaikan isu-isu lingkungan. Hal itu terjadi karena banyak birokrat dan para pengambil kebijakan terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan lingkungan di Amerika serikat berpihak pada pengusaha atau pebisnis. Birokrat dan pengambil kebijakan seolah berlaku sebagai wirausahawan politik atau mitra dari wirausahawan ekonomi.  Kebijakan yang dikeluarkan selalu berpihak pada bisnis berskala besar dan manufaktur, adanya pemberian kontrak-kontrak yang menguntungkan bisnis berskala besar dan manufaktur, dan meringankan sanksi hukum dan regulasi yang sejatinya keras.
Kendati demikian, sudah banyak solusi yang dikeluarkan guna mengatasi kerusakan lingkungan akibat system ekonomi kapitalisme. Adapun solusi tersebut seperti adanya moralitas kapitalisme hijau, penghematan energy dengan penggunaan teknologi berenergi rendah, mengurangi kerugian dan penggunaan material yang lebih sedikit seperti menggantikan pemakaian bahan bakar yang berasal dari minyak bumi dengan ethanol cair dan biodiesel hasil olahan tanaman perkebunan, program batu bara yang lebih bersih, penggunaan teknologi rendah seperti merotasikan tanaman guna meningkatkan bahan organic tanah, pembatasan perdagangan izin dan skema-skema pasar lainnya. Namun menurut penulis, solusi ini masih belum mampu mengenai inti persoalan isu lingkungan tersebut. Karena hanya akan menghasilkan kerusakan lingkungan baru bahkan hanya sebagai dalih untuk lagi-lagi memperoleh peningkatan laba korporasi.
Oleh karena itu penulis buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar mengemukan solusi atas dampak kapitalisme terhadap lingkungan. Adapun solusi tersebut seperti perlu dilakukannya pembangunan manusia yang berkelanjutan, pelaksanaan revolusi ekologis dan merencanakan masyarakat baru. Perlu dilakukannya penggantian kapitalisme dengan tatanan social yang berbasis perekomonian yang tidak membaktikan diri untuk memaksimalkan keuntungan privat dan mengakumulasi capital yang lebih besar (Sweezy dalam Magdoff dan Foster, 2018:145). Hal tersebut dapat diimplementasikan seperti adanya program pengenaan pajak pada karbon, menyuruh Amerika serikat agar berperan serta dengan bangsa-bangsa dunia lainnya untuk menyusun consensus global pengurangan drastic emisi karbon, menganjurkan Negara kaya untuk mendukung penyusutan dan konvergensi emisi karbon, mengakhiri eksploitasi sumber daya alam, pemanfaatan energy seefektif dan seefisien mungkin, menyediakan kebutuhan energy dunia dengan tenaga angin, air dan cahaya matahari, penyedian sarana alat transportasi umum ramah lingkungan, membentuk lembaga perlindungan lingkungan hidup, menciptakan pertanian yang lebih berkelanjutan, dan sebagainya.
Buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar ini bagus untuk para aktivis lingkungan dan para pengambil kebijakan ekonomi dan lingkungan. Hal itu karena pada buku ini terdapat kajian mengenai kapitalisme dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Data-data yang disajikan dalam buku ini sangat akurat serta buku ini secara rinci membongkar paradigma atau perspektif manusia mengenai tidak perlunya perubahan perekonomian kapitalis demi menyelesaikan masalah lingkungan. Selain itu, isi buku ini sangat sistematis karena tersusun dari isu lingkungan hidup, penyebab isu tersebut, akibat dari isu tersebut, realita yang terjadi di dunia mengenai isu-isu tersebut, solusi yang telah ada untuk menyelesaikan isu lingkungan, kritik penulis tentang solusi yang telah ada, kemudian terakhir solusi yang ditawarkan oleh penulis untuk persoalan lingkungan.
Namun solusi-solusi yang ditawarkan oleh penulis dalam buku ini belum sepenuhnya dapat mengatasi persoalan lingkungan hidup akibat kapitalisme. Hal tersebut seperti solusi adanya pemungutan pajak karbon. Pemungutan pajak karbon tidak dapat sepenuhnya mengatasi persoalan lingkungan, karena meski dipungut pajak dan hasil pungutan pajak tersebut dialokasikan kepada kaum miskin, tidak akan mengurangi kegiatan pasar karbon yang dapat merusak lingkungan. Karena semakin membayar pajak, maka industry berskala besar dibidang karbon akan semakin mengembangkan usahanya untuk meningkatkan laba meski terkena pajak. Selain itu solusi yang melibatkan peran besar civil society juga kurang didapati pada buku ini. Seharusnya gerakan lingkungan yang ditawarkan lebih berbasis civil society. Karena gerakan lingkungan yang melibatkan civil society akan lebih efektif sebab civil societylah yang lebih merasakan kerusakan lingkungan dan lebih paham akan lingkungan. Mereka memiliki kekuatan itu karena mereka memiliki jejaring yang bersifat global, sehingga para kapitalis dan Negara harus berhitung untuk melakukan tindakan represif terhadap mereka (Yety, 2017).
Solusi penulis seperti membuat Amerika serikat ikut dengan bangsa dunia lainnya dalam menyusun consensus global pengurangan drastic emisi karbon dirasa juga kurang efektif. Sebab jikalaupun Amerika serikat ikut serta dengan bangsa dunia lainnya dalam merumuskan consensus tersebut, tentu Amerika Serikat akan berusaha untuk menguatkan paham kapitalis mereka, dan consensus yang dihasilkan juga lagi-lagi akan  tidak efektif untuk solusi persoalan lingkungan. Selain itu, pada consensus yang dibuat seharusnya ada sanksi yang tegas terhadap Negara-negara yang melanggar isi dari consensus tersebut, karena percuma saja apabila consensus dibuat hanya untuk mengalihan isu dan tidak direalisasikan. Contohnya pada consensus Pariss Agreement yang merupakan pencapaian tertinggi negosisasi satu decade terakhi dunia internasional untuk pengaturan upaya penurunan emisi dan pengendalian perubahan iklim (Ayatullah, 2017). Pada Pariss Agreement ini Amerika serikat ikut serta dalam perumusan serta pengesahaannya dan berkomitmen untuk menjalankannya. Namun pada Pemerintahan Donald Trump, Amerika serikat mangkir dari consensus tersebut. Pada tanggal 1 Juni 2017, presiden Donald Trump resmi mengumumkan untuk keluar dari kesepakatan Paris Agreement (Beryl, 2018). Hal ini tentu saja tidak akan membuat persoalan lingkungan terselesaikan, Negara yang banyak menyumbang kerusakan lingkungan saja tidak mau menyepakati dan ambil andil dalam consensus perubahan lingkungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar bagus untuk dibaca dan dijadikan bahan referensi bagi aktivis lingkungan dan para pengambil kebijakan ekonomi dan lingkungan. Namun solusi yang ditawarkan oleh penulis hendaknya harus lebih mudah untuk direalisasikan dan benar-benar dapat mengurangi permasalahan lingkungan hidup.



DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ayatullah, Komeini. 2017. Diplomasi Tiongkok terhadap Amerika Serikat dalam Paris Agreement Tahun 2015-2016. Jurnal OP FISIP Vol. 4 No. 2 : Universitas Riau. (http://media.neliti.com).
Baryl, Rifqi Alhadi. 2018. Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump Keluar dari Paris Agreement (COP-21). Jurnal OP FISIP Vol. 5 No. 2 : Universitas Riau (Http://media.neliti.com).
Magdoff, Fred dan John Bellamy Foster. 2018. Lingkungan Hidup dan Kapitalisme Sebuah Pengantar (diterjemahkan oleh Piung Ginting). Jakarta : Marjin Kiri.
Yety, Rochwulaningsih. 2017. Dinamika gerakan Lingkungan dan Global Environmental Governance. Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol. 2 No. 2 : Universitas Diponegoro (Http://media.neliti.com).

No comments:

Post a Comment